Pengarusutamaan Gender di Bangka Belitung: Bukan Sekadar Angka, tapi Kehidupan Nyata

Kalau dengar istilah “Pengarusutamaan Gender” (PUG), banyak orang langsung kebayang bahasa birokrasi yang ribet. Padahal intinya sederhana: bikin kebijakan yang adil, biar perempuan dan laki-laki bisa punya kesempatan yang sama. Data BPS menunjukkan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Bangka Belitung sejak 2010 sampai 2020 nyaris jalan di tempat, cuma main di angka 52–57, bahkan sempat turun ke 51,69 tahun 2016. Baru di 2024 tiba-tiba naik jadi 71,07. Angka ini bikin bangga, tapi juga bikin penasaran: apakah benar hidup laki-laki dan perempuan di Babel jadi lebih setara?

Realitas yang Masih Berat

Di banyak keluarga Babel, laki-laki masih dituntut jadi pencari nafkah utama. Perempuan lebih sering diposisikan di dapur atau kerja kecil yang jarang dihitung. Laki-laki muda ditekan untuk cepat nikah, cari kerja mapan, dan tampil religius. Hidup jadi seperti lomba kejar standar, bukan perjalanan yang bebas dipilih. Penelitian Ylöstalo (2016) dan Damilola & Cishe (2024) bilang, norma lama kayak gini jadi tembok keras buat jalan PUG. Artinya, masalah bukan cuma soal perempuan yang tersisih, tapi juga laki-laki muda yang jadi korban ekspektasi.

Butuh Kebijakan yang Dengar Suara Kita

Kesetaraan nggak bisa datang kalau keputusan diambil sepihak. Wendoh & Wallace (2005) bilang, partisipasi komunitas itu penting, dan Gustá & Caminotti (2020) tunjukkan betapa efektifnya kalau perempuan muda atau kelompok marjinal ikut bicara. Di Babel, ini berarti forum desa, kampus, sampai rapat birokrasi harus mau dengar cerita orang muda. Ravindran dkk. (2022) juga ingatkan soal pentingnya kelembagaan yang solid, ditopang anggaran responsif gender (Ampaire dkk., 2020; Awo & Antwi, 2022). Tanpa duit khusus ini, program kesetaraan cuma jadi slogan.

Peran Laki-Laki Nggak Kalah Penting

Banyak yang masih mikir PUG itu urusan perempuan. Padahal riset Tiessen (2004, 2005) dan Ababei dkk. (2023) tunjukkan, kalau laki-laki muda diajak diskusi dan dilibatkan, resistensi bisa turun. Di Babel, kita bisa mulai tanya ke diri sendiri: apa arti “mapan” harus selalu soal penghasilan besar dan gengsi sosial? Atau bisa juga berarti berani dukung pasangan, adik, atau teman biar mereka juga bisa maju? Jadi lelaki sejati bukan soal beban yang dipikul sendirian, tapi soal kemitraan yang sehat.

Ruang Digital, Ruang Kita

Sekarang, ruang digital sudah jadi arena penting. TikTok, Instagram, sampai Facebook dipakai anak muda Babel buat pamer kerja keras, jualan online, atau sekadar hiburan. Tapi ruang ini juga bisa dipakai untuk kampanye positif. Fesenko dkk. (2022) tunjukkan betapa media sosial bisa jadi sarana memperluas nilai kesetaraan. Bayangin kalau gerakan anti-pernikahan anak atau dukungan untuk usaha perempuan muda digencarkan di sini, pasti efeknya lebih terasa.

Hati-Hati dengan Politik Angka

Kenaikan IDG 2024 memang bikin senyum. Tapi Colfer dkk. (2013) wanti-wanti, indikator gender harus kritis, bukan sekadar kosmetik. Lin & L’Orange (2012, 2016) juga bilang, data terpilah penting biar kita tahu siapa yang benar-benar diuntungkan. Jangan sampai grafik naik dipakai pamer prestasi, padahal di lapangan perempuan masih jarang diajak ambil keputusan, dan laki-laki muda tetap stres oleh beban maskulinitas.

Dari Angka ke Aksi

Lonjakan IDG Babel ke 71,07 di 2024 memang bikin optimis, tapi data Indeks Kesetaraan Gender (IKG) tahun yang sama nunjukin ceritanya belum merata. Belitung Timur relatif setara dengan skor 0,7, tapi Pangkalpinang justru timpang banget, cuma 0,2. Daerah lain ada di tengah, sekitar 0,36–0,5. Jadi meski provinsi kelihatan naik, banyak wilayah masih ketinggalan. Inilah poin pentingnya PUG: bukan sekadar senang lihat grafik bagus, tapi memastikan hidup sehari-hari laki-laki dan perempuan di tiap daerah Babel bener-bener lebih setara, lebih adil, dan lebih manusiawi.

Daftar Pustaka:

  • Ababei, C., Borello, L., Brylow, D., Daleke, D., Denton, A. R., Ensmenger, N., Friman, H. R., Green, R. A., Grych, J., James, T. W., Johnson, D. F., Krenz, G., Macy, J. T., Peoples, R. W., Perry, J. E., Ray, C. M., St. Maurice, M. R., Thomas, P. W., & Zink, M. D. (2023). Advocates and Allies Across Multiple Institutions – A Discussion of Best-Practices to Support Gender Equity. 2023 Collaborative Network for Engineering and Computing Diversity, CoNECD 2023. https://www.scopus.com/inward/record.uri?eid=2-s2.0-85199355172&partnerID=40&md5=d190bae900b5351687ddc0e00c3c2650
  • Ampaire, E. L., Acosta, M., Huyer, S., Kigonya, R., Muchunguzi, P., Muna, R., & Jassogne, L. (2020). Gender in climate change, agriculture, and natural resource policies: insights from East Africa. Climatic Change, 158(1), 43–60. https://doi.org/10.1007/s10584-019-02447-0
  • Awo, M. A., & Antwi, A. (2022). Minding the gap in agriculture and food security: Gender mainstreaming and women’s participation in policy processes in Ghana. Dalam Agricultural Commercialization, Gender Equality and the Right to Food: Insights from Ghana and Cambodia (hlm. 131–147). Taylor and Francis. https://doi.org/10.4324/9781003202004-9
  • Colfer, C. J. P., Achdiawan, R., Adnan, H., & Yuliani, E. L. (2013). Gender and natural resource governance indicators: A need to assess and address sensitive and taboo topics. Forests Trees and Livelihoods, 22(3), 143–155. https://doi.org/10.1080/14728028.2013.807143
  • Damilola, M., & Cishe, E. N. (2024). Effectiveness of Gender Mainstreaming Strategies in Promoting Sustainable Development in Amahlathi Local Municipality, Or Tambo District, Eastern Cape, South Africa. Pakistan Journal of Life and Social Sciences, 22(2), 12685–12698. https://doi.org/10.57239/PJLSS-2024-22.2.00906
  • Fesenko, T., Korzenko, V., & Fesenko, G. (2022). IT and Gender: Applying Website Project Management Tools. Dalam S. Bushuyev, N. Kunanets, & V. Pasichnyk (Ed.), CEUR Workshop Proceedings (Vol. 3295, hlm. 127–137). CEUR-WS. https://www.scopus.com/inward/record.uri?eid=2-s2.0-85144116398&partnerID=40&md5=88d141713dc5585a3345f46549a7bdec
  • Gustá, A. L. R., & Caminotti, M. (2020). The governance of gender policies in leftist governments: Point and counterpoint between Montevideo (Uruguay) and Rosario (Argentina); [A governança das políticas de gênero em governos de esquerda: Ponto e contraponto entre Montevidéu (Uruguai) e Rosário (Argentina)]; [La gobernanza de las políticas de género en gobiernos de izquierda: Punto y contrapunto entre Montevideo (Uruguay) y Rosario (Argentina)]. Colombia Internacional, 2020(101), 161 – 185. https://doi.org/10.7440/colombiaint101.2020.06
  • Lin, V., & L’Orange, H. (2012). Gender-sensitive indicators for healthcare. Dalam The Palgrave Handbook of Gender and Healthcare, Second Edition (hlm. 92–110). Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1057/9781137295408_6
  • Lin, V., & L’Orange, H. (2016). Gender-sensitive indicators for healthcare. Dalam The Palgrave Handbook of Gender and Healthcare (hlm. 72–90). Palgrave Macmillan. https://doi.org/10.1057/9780230290334_5
  • Ravindran, T. K. S., Ippolito, A. R., Atiim, G., & Remme, M. (2022). Institutional gender mainstreaming in health in UN Agencies: Promising strategies and ongoing challenges. Global Public Health, 17(8), 1551–1563. https://doi.org/10.1080/17441692.2021.1941183
  • Tiessen, R. (2004). Re-inventing the gendered organization: Staff attitudes towards women and gender mainstreaming in NGOs in Malawi. Gender, Work and Organization, 11(6), 689–708. https://doi.org/10.1111/j.1468-0432.2004.00255.x
  • Tiessen, R. (2005). What’s new about gender mainstreaming? Three decades of policy creation and development strategies. Canadian Journal of Development Studies, 26(SPEC. ISS.), 705–720. https://doi.org/10.1080/02255189.2005.9669108
  • Wendoh, S., & Wallace, T. (2005). Re-thinking gender mainstreaming in African NGOs and communities. Gender and Development, 13(2), 70–79. https://doi.org/10.1080/13552070512331332288
  • Ylöstalo, H. (2016). Organizational perspective to gender mainstreaming in the Finnish state administration. International Feminist Journal of Politics, 18(4), 544–558. https://doi.org/10.1080/14616742.2016.1149307
Bismarq Pulungan
Bismarq Pulungan
Articles: 6