Jaringan Patronase dan Aktor Kunci
- Struktur: Jaringan patronase di Bangka Belitung melibatkan elit lokal, pejabat pemerintah, perusahaan pertambangan swasta, dan penambang komunitas. Para aktor ini bekerja sama untuk mempertahankan kendali atas sumber daya timah, seringkali melalui perjanjian informal dan penegakan hukum yang selektif (Ark-Yıldırım, 2017; Auerbach, 2021; Kusumawati & Visser, 2016; Rahayu dkk., 2023).
- Operasi: Elit lokal dan pejabat memfasilitasi penambangan ilegal dengan menerbitkan izin sebagai formalitas, memberikan persetujuan diam-diam, dan mendistribusikan kompensasi tunai kepada masyarakat untuk menekan perlawanan (Haryadi & Wahyudin, 2018; Rahayu dkk., 2025).
- Perlindungan bagi Aktor Institusional: Entitas-entitas kuat seperti PT Timah terlindungi dari penegakan hukum, sementara perantara dan penambang skala kecil lebih sering menjadi sasaran penegakan hukum, mencerminkan sifat selektif dari tata kelola yang didasarkan pada patronase (Auerbach, 2021; Rahayu dkk., 2025).
Kekosongan Regulasi dan Penegakan Hukum yang Selektif
Otoritas yang Terpecah-pecah: Tumpang tindih kewenangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menyebabkan celah kebijakan yang dimanfaatkan oleh elit untuk mempertahankan penambangan ilegal (Ibrahim dkk., 2023; Rahayu dkk., 2024).
Kepatuhan Simbolis: Kerangka hukum pada dasarnya berfungsi sebagai simbolik, dengan audit dan izin yang digunakan untuk melegitimasi kegiatan ilegal yang sedang berlangsung daripada untuk menegakkan kepatuhan yang sesungguhnya (Rahayu dkk., 2025).
Penegakan Hukum yang Selektif: Penegakan hukum seringkali ditujukan kepada pihak-pihak yang kurang berkuasa, sementara aktor-aktor institusional menikmati kebal hukum, yang mempertahankan siklus ketidakpatuhan hukum (Datt, 2016; Rahayu dkk., 2025).
Desentralisasi, Deregulasi, dan Dinamika Kekuasaan
Dampak Desentralisasi: Peralihan kewenangan kepada pemerintah daerah sejak tahun 1990-an telah menciptakan peluang bagi advokasi masyarakat dan penguasaan oleh elit, yang mengakibatkan penegakan hukum yang terfragmentasi dan peningkatan penambangan ilegal (Raik dkk., 2008; Rijal dkk., 2024; Savirani & Wardhani, 2022).
Tren Rekonsentrasi: Perubahan legislatif terbaru telah mengembalikan sebagian kewenangan kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat, namun hal ini belum sepenuhnya menyelesaikan tantangan tata kelola, karena jaringan patronase yang sudah mengakar tetap bertahan (Diprose, 2023; Rijal dkk., 2024).
Ringkasan:
Patronase politik di Bangka Belitung dipertahankan oleh jaringan kompleks aktor dan mekanisme yang memanfaatkan ketidakjelasan regulasi, memungkinkan penambangan timah ilegal berkembang pesat meskipun ada kerangka hukum formal.
Daftar Rujukan
Ark-Yıldırım, C. (2017). Political Parties and Grassroots Clientelist Strategies in Urban Turkey: One Neighbourhood at a Time. South European Society and Politics, 22(4), 473–490. https://doi.org/10.1080/13608746.2017.1406431
Auerbach, K. R. (2021). Accountable to whom? How strong parties subvert local democratic institutions. Party Politics. https://doi.org/10.1177/13540688211019720
Datt, D. (2016). Inter-governmental political relations in a federation and illegal mining of natural resources. Environmental Economics and Policy Studies, 18(4), 557 – 576. https://doi.org/10.1007/s10018-015-0123-4
Diprose, R. (2023). Striking the Right Balance: Winding Back Indonesia’s ‘Big Bang’ Decentralization. Dalam Constitutional Democracy in Indonesia (hlm. 89–114). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/oso/9780192870681.003.0005
Haryadi, D., & Wahyudin, N. (2018). Make peace with the damaged coast(The experience of mentok coastal community in adapting the offshore tin mining). Dalam A. Amron & N. A. Prayogo (Ed.), E3S Web of Conferences (Vol. 47). EDP Sciences. https://doi.org/10.1051/e3sconf/20184707002
Ibrahim, I., Haryadi, D., & Wahyudin, N. (2023). THE NEW POLITICAL GOVERNANCE OF TIN MANAGEMENT IN BANGKA BELITUNG ISLANDS, INDONESIA: LOCAL ELITES’ PERSPECTIVE. Journal of Sustainability Science and Management, 18(9), 123–142. https://doi.org/10.46754/jssm.2023.09.009
Kusumawati, R., & Visser, L. (2016). Capturing the Elite in Marine Conservation in Northeast Kalimantan. Human Ecology, 44(3), 301 – 310. https://doi.org/10.1007/s10745-016-9830-0
Rahayu, D. P., Faisal, F., Yokotani, Y., & Sari, M. Y. A. R. (2025). The Semiotics of Extractive Legality: Symbolic Law and Tin Mining Governance in Indonesia. International Journal for the Semiotics of Law. https://doi.org/10.1007/s11196-025-10354-0
Rahayu, D. P., Rahayu, S., Faisal, Wulandari, C., & Hasan, M. S. (2023). Implications Of Illegal Community Mining For Economic Development In Bangka Regency, Indonesia. Law Reform: Jurnal Pembaharuan Hukum, 19(2), 270 – 293. https://doi.org/10.14710/lr.v19i2.52866
Rahayu, D. P., Rustamadji, M., Faisal, & Sari, R. (2024). Illegal tin mining, policy gaps and the plight of small-scale tin miners in Indonesia. South East Asia Research, 32(4), 351 – 369. https://doi.org/10.1080/0967828X.2025.2462727
Raik, D. B., Wilson, A. L., & Decker, D. J. (2008). Power in natural resources management: An application of theory. Society and Natural Resources, 21(8), 729 – 739. https://doi.org/10.1080/08941920801905195
Rijal, S., Ilmar, A., Maskun, M., & Rahman, N. H. A. (2024). Restoration of Central Power or Betrayal of Regional Autonomy? Analysis of the Impact of Recentralization of Mining Authority in the Era of Limited Autonomy. Journal of Law and Legal Reform, 5(4), 1793 – 1820. https://doi.org/10.15294/jllr.v5i4.14466
Savirani, A., & Wardhani, I. S. (2022). Local social movements and local democracy: tin and gold mining in Indonesia. South East Asia Research, 30(4), 489–505. https://doi.org/10.1080/0967828X.2022.2148553
