Di Pulau Bangka masih ada komunitas adat yang hingga kini dikenal dengan nama Suku Lom. Mereka juga disebut Orang Lom Bangka, salah satu suku asli yang punya cara hidup berbeda dengan masyarakat sekitar. Hidup mereka erat dengan hutan, adat, dan keyakinan nenek moyang, meskipun modernisasi dan aturan negara tentang identitas agama semakin menekan.
Penelitian menunjukkan bahwa hutan memegang peran penting dalam kehidupan mereka. Ada satu pohon yang sangat berarti, yaitu Pelawan Padang atau Tristaniopsis merguensis. Pohon ini digunakan untuk banyak hal, mulai dari bahan konstruksi rumah panggung, kayu bakar, obat tradisional, hingga menghasilkan madu.
Cara Orang Lom memanfaatkan pelawan adalah bukti nyata etnobotani dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan itu termasuk bagian dari pengetahuan lokal yang membuat mereka punya kemampuan bertahan hidup. Dari satu pohon saja, mereka bisa mendapatkan banyak hal penting untuk kebutuhan hidup, sekaligus menjaga kesinambungan tradisi leluhur.
Namun hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan pengetahuan antar-generasi. Responden yang berusia di atas 40 tahun lebih memahami pemanfaatan pelawan dibandingkan responden berusia 25–40 tahun. Dari sisi pekerjaan, petani dan mereka yang tidak bekerja lebih banyak mengetahui manfaat pelawan dibandingkan responden yang berstatus karyawan.
Menariknya, pengetahuan tentang pelawan tidak berbeda antara pemimpin adat dan anggota masyarakat biasa. Ini berarti, pengetahuan tersebut tidak hanya dipegang oleh tokoh tertentu, tetapi menyebar di dalam komunitas. Fakta ini memperlihatkan bahwa warisan etnobotani masih ada meski perlahan tergerus oleh perubahan zaman.
Selain hutan, kehidupan Orang Lom juga dijalankan dengan dasar keyakinan nenek moyang. Kehidupan sehari-hari mereka diatur oleh adat, tabu, mitos, dan legenda yang diwariskan turun-temurun. Sistem kepercayaan ini bercorak animisme dan fetisisme, yang memandang roh ada di alam dan benda tertentu memiliki kekuatan.
Ritual dalam kepercayaan ini tetap dijalankan. Ada yang bersifat sakral dan ada juga yang profan, keduanya masih menjadi bagian dari kehidupan. Bagi Orang Lom, kebahagiaan tidak ditentukan oleh agama formal, melainkan oleh hati yang bersih dan ketaatan pada adat.
Keunikan lain muncul dari posisi mereka di tengah masyarakat sekitar. Orang Lom hidup berdampingan dengan pemeluk Islam, Kristen, dan Konfusianisme, tetapi mereka tidak serta merta mengadopsi agama formal tersebut. Mereka tetap memilih berpegang pada warisan leluhur sebagai pedoman hidup utama.
Di sisi lain, aturan negara mengharuskan setiap warga memiliki identitas agama. Hal ini membuat Orang Lom harus menyesuaikan diri tanpa meninggalkan akar tradisi. Peneliti menyebut cara ini sebagai strategi yang ambigu, karena mereka mengikuti aturan formal sekaligus tetap menjaga adat.
Dalam praktiknya, sebagian budaya yang tidak sakral bisa menyesuaikan dengan keadaan modern. Tetapi budaya yang bersifat sakral tetap dijaga ketat dan tidak berubah. Dengan begitu, mereka bisa menyeimbangkan antara tuntutan negara dan kepercayaan nenek moyang.
Fenomena ini menunjukkan adanya transformasi agama dalam kehidupan Orang Lom. Mereka tidak menolak agama formal, namun juga tidak meninggalkan akar tradisi. Identitas mereka menjadi lentur, tampak menyesuaikan dari luar tetapi tetap kuat di dalam.
Kehidupan Orang Lom Bangka memperlihatkan keterhubungan antara hutan, adat, dan identitas. Dari Pelawan Padang mereka menjaga alam, dari adat mereka merawat keyakinan, dan dari strategi ambigu mereka mengatur posisi di tengah negara modern. Semua ini membentuk daya tahan mereka sebagai suku asli yang masih bertahan hingga kini.
Tradisi bagi Orang Lom bukan sekadar masa lalu, melainkan cara hidup yang masih relevan. Dengan merawat pengetahuan lokal, menjaga hutan, menjalankan adat, dan menegosiasikan identitas agama dengan cermat, mereka membuktikan bisa terus bertahan. Meski mengalami transformasi agama, akar budaya mereka tetap kokoh, menjadikan Orang Lom Bangka bagian penting dari sejarah sekaligus masa depan Bangka.
Daftar Rujukan
Hartanto, S., Sulistyaningsih, Y. C., & Walujo, E. B. (2018). Indigenous Knowledge Degradation of Lom Community, Bangka Island in identifying and using Pelawan Padang (Tristaniopsis merguensis). Biosaintifika, 10(3), 663 – 670. https://doi.org/10.15294/biosaintifika.v10i3.14089
Janawi. (2022). Contemporary Orang Lom of Mapur Bangka: Religious Identity and its Transformation. Koers, 87(1). https://doi.org/10.19108/KOERS.87.1.2533
Janawi, & Nikmarijal. (2020). Maintaining the originality of ancestral belief; ethnographic study of the lom belief system of the Mapur Bangka tribe. International Journal of Psychosocial Rehabilitation, 24(3), 2502 – 2510. https://doi.org/10.37200/IJPR/V24I3/PR201896
