Di tepian perairan yang tenang antara Sumatra dan Laut Cina Selatan, Kepulauan Bangka Belitung berdiri sebagai cermin paling jernih dari paradoks identitas Melayu. Di satu sisi, masyarakatnya memeluk Islam dengan kuat, berbahasa Melayu, dan menjalankan adat “bersendi syarak, syarak bersendikan Kitabullah.” Namun di sisi lain, mereka menamakan diri sebagai Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong, sebuah pepatah Hakka yang berarti “orang Tionghoa dan orang Melayu itu sama.” Dari ungkapan ini, satu hal menjadi jelas: ke-Melayu-an Bangka Belitung bukanlah produk darah murni, melainkan hasil asimilasi panjang yang mencairkan batas-batas etnis, agama, dan sejarah.
Geografi Sebagai Takdir Asimilasi
Secara geografis, Bangka Belitung adalah simpul silang Asia Tenggara. Jalur maritim yang menghubungkan Jawa, Sumatra, dan Semenanjung Malaya menjadikannya ruang terbuka bagi arus migrasi, perdagangan, dan pertukaran ide (Amri, 2018). Bahkan nama “Bangka” sendiri, yang diduga berasal dari kata Sanskerta wangka yang berarti “timah”, menunjukkan bahwa sejak awal pulau ini dikenal bukan karena identitas etniknya, tetapi karena komoditas yang diekstrak darinya (Mulia, 2020).
Dalam pandangan antropologi, posisi geografis seperti ini adalah rahim bagi hibriditas budaya. Ia melahirkan masyarakat yang identitasnya tidak dibangun dari keturunan murni, melainkan dari jalur pertemuan. Bangka Belitung adalah mosaik hasil interaksi Austronesia, Sriwijaya, Islam, dan migran Tionghoa pada masa kolonial (Lindayanti, 2017). Dari sinilah akar identitas Melayu Bangka Belitung tumbuh, bukan dari ras, tetapi dari pertemuan.
Austronesia dan Pribumi yang Terlupakan
Sebelum istilah “Melayu” menancap di tanah Bangka Belitung, kepulauan ini telah dihuni oleh masyarakat Austronesia yang hidup selaras dengan alam: Suku Lom dan Suku Sekak. Kedua kelompok ini menandai lapisan tertua peradaban lokal. Suku Lom, yang hidup di pedalaman, dan Suku Sekak, “orang laut” nomaden, memandang hutan dan laut bukan sekadar sumber pangan, tetapi ruang spiritual (Budiman et al., 2022). Kepercayaan mereka pada roh penjaga hutan larangan, pantangan menebang pohon tertentu, dan tabu ekologis lainnya adalah bentuk “ekoteologi” purba. Agama alam ini menjamin keberlanjutan ekosistem jauh sebelum istilah “konservasi” diperkenalkan.
Namun dalam historiografi modern, mereka sering disamakan dengan “yang belum beragama”, atau Orang Lum. Narasi ini mencerminkan bagaimana Islamisasi dan kolonialisme menulis ulang identitas lokal menjadi lapisan bawah dari hierarki budaya. Padahal, jejak spiritualitas mereka masih hidup hingga kini, dalam pantangan adat, ritual taber penyucian kampung, dan penghormatan terhadap tanah serta sungai yang dianggap berpenghuni. Sebelum “Melayu” hadir, Bangka Belitung telah memiliki etika ekologis dan spiritual yang matang.
Islamisasi dan Lahirnya “Orang Lah”
Gelombang migrasi Melayu yang datang dari Johor dan Palembang membawa Islam sebagai tanda pembeda yang baru (Ali et al., 2023). Identitas pun bergeser: “Orang Lum” yang belum Islam menjadi “Orang Lah” setelah mengucap syahadat. Proses ini menunjukkan bahwa ke-Melayu-an di Bangka Belitung tidak ditentukan oleh garis keturunan, melainkan oleh afiliasi religius. Menjadi Melayu berarti menjadi Muslim.
Filosofi hidup masyarakat terbingkai dalam adagium klasik: adat bersendi syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Islam menjadi bukan hanya agama, tetapi peta moral, hukum, dan etika sosial (Fitri et al., 2024). Dalam ranah ini, Islamisasi tidak menelan tradisi lokal secara paksa. Sebaliknya, ia bernegosiasi. Ritual animistik diberi selimut doa, simbol pra-Islam dibiarkan hidup berdampingan dalam kesenian seperti Dambus yang memadukan ukiran kepala rusa dengan musik dakwah (Sunandar & Tomi, 2023). Inilah wajah Islam yang organik, bukan hasil pemurnian, tetapi hasil adaptasi.
Timah: Logam yang Mencetak Identitas
Abad ke-18 menjadi babak paling menentukan dalam pembentukan identitas Bangka Belitung. Penemuan timah mengubah segalanya. Ia bukan hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga mengundang arus besar migrasi etnis Tionghoa, terutama Hakka dan Hokkien, yang didatangkan untuk bekerja di tambang (Heidhues, 1992). Para penambang ini tidak sekadar membawa tenaga, tetapi juga sistem nilai, kuliner, bahasa, dan etika kerja yang kemudian berasimilasi dengan masyarakat Melayu setempat.
Dari sinilah muncul falsafah legendaris: Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong. Ungkapan ini bukan sekadar slogan politik multikultural, tetapi hasil konkret dari sejarah bersama. Di tengah lumpur tambang dan tekanan kolonial, dua komunitas ini menemukan kesetaraan eksistensial. Mereka sama-sama tertindas dan sama-sama bekerja keras di bawah panas logam cair. Hubungan itu bukan idealisme, melainkan kontrak sosial berbasis solidaritas dan ekonomi mutualistik (Idi, 2012; Ibrahim et al., 2022).
Berbeda dengan banyak wilayah lain di Indonesia yang kerap dirundung konflik etnis, di Bangka Belitung relasi Melayu–Tionghoa justru menampilkan wajah damai. Hal ini tidak berarti tanpa ketegangan, tetapi karena struktur ekonomi yang relatif seimbang, konflik sosial jarang bereskalasi (Satya & Maftuh, 2016). Falsafah “Orang Melayu dan Tionghoa adalah sama” pun menjadi semacam imun budaya terhadap rasisme.
Bahasa dan Dialek: Arsip Multikultural
Dalam setiap dialek Melayu Bangka tersimpan fosil sejarah migrasi. Dialek Bangka Barat, misalnya, penuh serapan kata Hakka, sementara dialek Belitung meminjam kosakata dari bahasa Bugis (Hariyanto et al., 2023). Peneliti linguistik menyebut Bangka Belitung sebagai “museum bahasa Melayu” karena menyimpan beragam lapisan linguistik dari berbagai era (Bowo, 2024).
Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga arsip sosial. Ia mencatat bagaimana masyarakat bernegosiasi dengan dunia luar tanpa kehilangan akar. Ketika seorang penutur Melayu Bangka menyapa dengan kata “ciak”, serapan dari bahasa Tionghoa untuk “makan”, itu bukan sekadar kata pinjaman, melainkan pengakuan tak sadar bahwa identitas mereka dibangun bersama.
Adat, Solidaritas, dan Filosofi Sosial
Salah satu ciri paling menonjol dari masyarakat Melayu Bangka Belitung adalah kuatnya etos kebersamaan. Tradisi nganggung, membawa talam makanan besar ke masjid untuk disantap bersama, bukan sekadar pesta rakyat, melainkan praktik sosial yang mengajarkan egalitarianisme. Setiap rumah, kaya atau miskin, membawa satu dulang; setiap orang makan dari talam yang sama. Ini adalah teologi sosial tentang kesetaraan dalam bentuk paling konkret (Purmawanti et al., 2024).
Filosofi Sepintu Sedulang (satu pintu, satu talam) menegaskan gagasan komunalitas bahwa rumah tangga hanyalah bagian dari satu tubuh sosial yang lebih besar. Kearifan lokal seperti kelekak, yaitu hutan pangan komunal yang ditanam “untuk anak cucu kelak”, menunjukkan bahwa solidaritas Melayu Bangka Belitung tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga ekologis (Amri, 2018). Dalam dunia yang kian individualistik, tradisi ini adalah artefak hidup tentang bagaimana komunitas bisa berjalan selaras dengan alam dan sesama.
Sistem Matrilineal: Sisa Perempuan dalam Struktur Islam
Menariknya, di tengah dominasi Islam yang patriarkal, masyarakat Melayu Bangka mempertahankan jejak sistem kekerabatan matrilineal. Harta warisan, terutama rumah dan tanah, sering kali diturunkan kepada anak perempuan; sementara peran mamak (paman dari pihak ibu) masih dihormati dalam pengambilan keputusan keluarga (Salim, 2019). Anomali ini menunjukkan bahwa identitas sosial Bangka bukanlah hasil konversi total, tetapi sintesis selektif antara sistem pra-Islam dengan etika Islam. Matrilinealitas yang bertahan ini adalah fosil sosial dari masa ketika perempuan menjadi pusat keluarga dan simbol kesinambungan suku.
Sinkretisme: Ketika Roh Leluhur dan Allah Berbagi Ruang
Di Bangka Belitung, Islam tidak datang sebagai pedang yang menebas masa lalu. Ia datang sebagai arus yang menyerap. Dalam ritual Taber, misalnya, doa-doa Islam dibacakan untuk menyucikan kampung dari roh jahat, sebuah ritual yang akarnya jelas animistik (Lestari, 2025). Dalam kesenian Dambus, kepala rusa yang terukir pada alat musik masih menyimpan simbolisme totemik pra-Islam (Takari, 2017). Semua ini menunjukkan bahwa Islamisasi di Bangka Belitung bersifat organik, tidak menghapus yang lama, melainkan menafsirkannya ulang.
Dari perspektif antropologis, ini bukan penyimpangan Islam, melainkan bukti bahwa agama hidup dalam konteks budaya. Identitas Melayu Bangka Belitung terbentuk karena kemampuannya untuk bernegosiasi dengan dunia spiritual yang kompleks, antara roh leluhur dan Tuhan tunggal, antara adat dan syarak, antara daratan dan laut.
Paradoks Timah dan Krisis Identitas Kontemporer
Namun, warisan timah yang dahulu menjadi perekat sosial kini menjelma menjadi sumber paradoks. Di satu sisi, pertambangan memberi kemakmuran, tetapi di sisi lain, ia meninggalkan luka ekologis berupa ribuan lubang tambang, air asam, dan tanah mati (Putri et al., 2023). Bersamaan dengan itu, muncul mentalitas baru yang oleh masyarakat disebut dak kawa nyusah, artinya tidak mau susah. Nilai gotong royong yang dulu menjadi napas komunitas tergantikan oleh logika instan ekonomi tambang (Haryadi et al., 2025).
Dalam konteks ini, identitas Melayu Bangka Belitung menghadapi ujian baru: bagaimana mempertahankan filosofi harmoni di tengah ekonomi ekstraktif yang menggerus solidaritas sosial. Jika pada abad ke-18 mereka mampu menyatukan Melayu dan Tionghoa dalam solidaritas kerja tambang, kini tantangannya adalah menyatukan manusia dan alam yang telah dipisahkan oleh kerakusan.
Menolak Mitos “Ras Murni”
Mengatakan bahwa Melayu Bangka Belitung adalah ras murni sama saja dengan menolak sejarahnya sendiri. Dari Austronesia hingga Hakka, dari animisme hingga Islam, dari bahasa Bugis hingga doa Arab, identitas masyarakat ini selalu dibentuk oleh pertemuan. Ia hidup karena asimilasi. Justru kemurnian, jika dipaksakan, akan menjadi bentuk baru dari kematian budaya.
Masyarakat Melayu Bangka Belitung adalah bukti empiris bahwa kebudayaan yang kuat bukanlah yang tertutup, melainkan yang lentur dan adaptif. Mereka membuktikan bahwa hibriditas bukan ancaman, melainkan strategi bertahan hidup. Dalam era globalisasi yang menekan keberagaman, falsafah Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong terasa lebih relevan dari sebelumnya. Menjadi “sama” bukan berarti menjadi seragam, melainkan berbagi ruang tanpa saling meniadakan.
Identitas Melayu Bangka Belitung adalah narasi tentang air, mengalir, lentur, tetapi tidak kehilangan bentuk. Dari arus migrasi, gelombang Islamisasi, hingga percikan timah kolonial, semua mengalir dan bertemu di muara yang sama, yaitu manusia Melayu Bangka Belitung hari ini. Dalam dunia yang kerap terobsesi dengan kemurnian, mereka adalah pelajaran tentang keindahan campuran. Dari pertemuan lahir kehidupan, dan dari perbedaan lahir harmoni.
Daftar Rujukan
Ali, N. H., Fuadi, M. A., & Mahbub, M. (2023). Menyatu dalam keragaman: Pola-pola Islamisasi di Belitung, Provinsi Bangka Belitung. Risâlah: Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, 9(2).
Amri, M. (2018). Budaya Melayu Bangka: Kontinuitas dan Perubahan. Gramedia Pustaka Utama.
Bowo, T. A. (2024). Melayu Bangka language map in South Bangka Regency. Lire Journal (Journal of Linguistics and Literature), 8(2), 258–277.
Budiman, A., et al. (2022). Cultural sustainability in the tin mining region: A case study of Bangka Belitung. Journal of Southeast Asian Studies, 45(3), 345–367.
Fitri, A., et al. (2024). Islam dan Kebudayaan (Adat Melayu Tidak Pernah Lepas Dari Agama Islam). Jurnal Multidisiplin West Science, 3(6), 688–695.
Hariyanto, P., et al. (2023). Language maintenance and identity: A case of Bangka Malay. International Journal of Society, Culture & Language, 11(2), 61–71.
Haryadi, D., Ibrahim, I., & Darwance, D. (2025). Dinamika migrasi dan tantangan reklamasi: Studi kasus komunitas tambang timah di Bangka Belitung. Jurnal Ilmu Lingkungan.
Heidhues, M. F. S. (1992). Bangka Tin and Mentok Pepper: Chinese Settlement on an Indonesian Island. Institute of Southeast Asian Studies.
Idi, A. (2012). Harmoni Sosial: Interaksi Sosial “Natural-Asimilatif” antara Etnis Muslim Cina dan Melayu-Bangka. Thaqaffiyat, 13(2), 361–383.
Ibrahim, I., Hidayat, A., & Herza, H. (2022). Habituation of Chinese subculture amid Bangka Malay domination: The role-sharing politics. Society, 10(2), 255–270.
Lestari, S. (2025). Sinkretisme budaya Islam dan budaya lokal Nusantara dalam memperkokoh hubungan masyarakat. Ri’ayah: Jurnal Sosial dan Keagamaan, 10(1).
Lindayanti. (2017). Kolonialisme dan perubahan sosial di Bangka Belitung 1816–1942. Ombak.
Mulia, R. (2020). Prasasti Kota Kapur dan jejak Sriwijaya di Bangka. Jurnal Arkeologi Indonesia, 15(2), 89–104.
Purmawanti, Z., et al. (2024). Eksistensi lembaga adat Melayu dalam menjaga kelestarian adat istiadat dan budaya pada era global di Bangka Belitung. Jurnal Adat dan Budaya, 6(1).
Putri, A. F. J., et al. (2023). Dampak kerusakan lingkungan biotik, abiotik, dan sosial budaya akibat pertambangan timah ilegal di Kecamatan Mentok. SENTRI: Jurnal Riset Ilmiah, 2(10), 4473–4481.
Salim, A. (2019). Penelitian antropologis sistem kekerabatan Melayu Bangka. Repositori UGM.
Satya, M. S., & Maftuh, B. (2016). Strategi masyarakat etnis Tionghoa dan Melayu Bangka dalam membangun interaksi sosial untuk memperkuat kesatuan bangsa. JPIS, 25(1), 10–22.
Sunandar, S., & Tomi, T. (2023). Sinkretisme Islam dan budaya lokal: Ritus kehidupan. Jurnal Sambas, 6(1), 57–66.
Takari, M. (2017). Adat Perkawinan Melayu: Gagasan, Terapan, Fungsi, dan Kearifannya. Program Studi Etnomusikologi FIB USU.
